SELAMAT DATANG DI BLOG INI, SEMOGA BERGUNA DAN BERMANFAAT INFORMASINYA. SALAM ADMIN: LUK

jam merah putih

KUDA LARI DAPAT DIBURU, NASIB ORANG SIAPA TAHU. BERAKIT-RAKIT KE HULU BERENANG-RENANG KETEPIAN, BERSAKIT-SAKIT DAHULU BERSENANG-SENANG KEMUDIAN

well come

In this blog includes matters relating to the context SOCIAL, CULTURAL, ECONOMIC, BISNIS, POLITICS / STATE and GOVERNMENT. Also, some matters relating to Religious Knowledge, art, literature, almost on all the livelihood based on science, experience.

في هذا بلوق يشمل المسائل المتعلقة السياق الاجتماعي والثقافي والاقتصادي والأعمال والسياسة الدولة والحكومة. أيضا، بعض المسائل المتعلقة بالمعارف الدينية والفن والأدب، وتقريبا على جميع سبل العيش على أساس العلم والخبرة.


SEKALI LAYAR TERKEMBANG, PANTANG SURUT KETEPIAN

cari topik Blog dan link yang diinginkan. ketik kata kunci dikotak ini

Memuat...

please open with your language. (pilih bahasa yg sesuai tuk baca) اختيار اللغة لقراءة

untuk membaca dengan bahasa anda klik select language اختيار اللغة لقراءة

Sabtu, 15 September 2012

Mysteri Rahasia ‘Konsep Kebenaran Mutlak’ Agama


Mysteri Rahasia ‘Konsep Kebenaran Mutlak’ Agama OPINI | 11 September 2012 | 15:27 Dibaca: 159 Komentar: 5 Nihil Anda mungkin pernah melihat wujud sebuah bangunan gedung besar bertingkat,apa yang bisa anda tangkap atau bisa anda lihat secara langsung dari wujud gedung besar itu (?) yang bisa kita tangkap secara langsung biasanya adalah ‘permukaan kulit luar’ dari gedung itu yang nampak mata secara langsung,misal : temboknya,pintunya,jendelanya dan segala ornamen yang melekat pada gedung itu.tapi ada sesuatu yang tidak nampak mata secara langsung tapi justru merupakan konstruksi utama dan tiang penyangga yang membuat gedung itu bisa berdiri dan semua material bangunan bisa diterapkan,apa itu (?) yaitu konstruksi besi beton yang menjadi konstruksi yang menyangga gedung besar itu hingga bisa berdiri secara kokoh. Itu adalah analogi yang tepat untuk menggambarkan agama,apa yang biasanya orang tangkap secara mudah dan langsung kalau mendengar kata ‘agama’ (?) umumnya yang biasa orang tangkap secara langsung adalah : ajaran moralnya,hukum hukum nya,ritual nya dlsb. atau yang lebih ‘luar’ lagi adalah apa yang manusia bisa menangkapnya melalui tangkapan mata secara langsung,misal cara berpakaian penganut agama itu,atau beragam budaya yang eksist-hidup diseputar para penganut agama itu.nah semua yang diterangkan itu bisa kita sebuat sebagai ‘permukaan kulit luar dari agama’ artinya sesuatu yang paling mudah ditangkap oleh manusia ketika mereka berhadapan dengan entitas yang dinamakan ‘agama’. Tetapi tahukah anda bahwa bila kita berbicara tentang ‘agama’ maka sebenarnya ada sesuatu yang bersifat abstrak yang tidak terlihat langsung oleh manusia bila manusia melihatnya dari permukaan kulit luar apalagi bila manusia mencoba melihatnya dengan mata kepalanya maka manusia tak akan bisa melihatnya secara langsung,yaitu konstruksi ilmu yang membangun konsep kebenaran mutlak yang menjadi essensi atau ‘bagian dalam’ dari agama,dengan kata lain kebenaran agama itu dibangun oleh konstruksi ilmu tertentu,dimana ilmu itu membangun dan menerangkan apapun seputar atau yang berhubungan dengan ‘kebenaran’ yang dimaksud agama. Itulah sebab bila agama disebut sebagai sesuatu yang memiliki dua lapisan : ‘lapisan luar’ adalah yang manusia bisa menangkap nya secara langsung - secara lebih mudah,sedang bagian dalam atau essensi agama adalah yang manusia tidak mudah untuk melihat dan memahaminya kecuali manusia mendalaminya. Dan bayangkan bila ada kelompok manusia yang melihat - menilai dan kemudian membuat rumusan tentang ‘agama’ berdasar kepada penglihatan yg menilai agama cenderung dari permukaan kulit luar semata,sehingga ujungnya lahir berbagai stigma negatif terhadap agama seperti anggapan ‘hanya ajaran moral’, ‘hanya produk budaya’, ’sesuatu yang tidak berdasar ilmu’,dlsb. padahal dibalik yang nampak permukaan itu ada sesuatu yang merupakan essensi agama yaitu : konstruksi kebenaran mutlak yang dibangun oleh bangunan konstruksi ilmu Ilahiah yang manusia bisa memahaminya hanya bila manusia mendalami (ilmu) nya. Sehingga dizaman ini kita layak untuk mengingat sabda Rasul bahwa ‘tiadalah agama diakhir zaman melainkan ia hanya tinggal kulit luarnya semata’,makna dari sinyalemen Rasul itu adalah bahwa di akhir zaman manusia lebih cenderung hanya melihat dan menilai agama sebatas permukaan kulit luar tidak sampai kepada (mendalami) essensinya.(sebagai contoh merebaknya pandangan yang antipati terhadap konsep kebenaran mutlak agama Ilahi dan lebih memilih menjadi seorang yang ber ideology pluralistik-relativistik dalam melihat dan memahami agama). Bagaimana cara kita agar kembali kepada (pemahaman terhadap) essensi agama yang berupa ‘konsep kebenaran yang bersifat mutlak’ itu (?) ya di zaman ini jalan satu satunya untuk menerangkan masalah itu adalah kita harus menerangkannya melalui jalur rekonstruksi ilmu,sebab bila kita lebih menggunakan jalan pintas misal ‘jalan dogma’ bukan tidak baik atau bernilai tapi cara demikian seperti akan mudah dipatahkan oleh orang orang tertentu kelas ‘pemikir’ terutama tentu yang tidak menyukai agama. Ada 4 konsep ilmu yang lahir atau bisa kita gali melalui kitab suci yang menjadi tiang kebenaran agama dan sekaligus juga menerangkan kebenaran agama : 1.ilmu sari’at atau ilmu yang membahas seputar hukum kausalitas antara sebab-akibat Kehidupan secara keseluruhan adalah mekanisme perputaran hukum sebab-akibat yang berantai dimana hukum sebab akibat itu ibarat rantai sepeda motor yg mengakibatkan roda motor berjalan maju,begitu pula hukum kausalitas menggerakkan roda kehidupan di alam semesta. Tetapi diatas muka bumi ini tak ada yang bisa menggambarkan proses sebab-akibat secara komplit dari awal hingga akhir,dari A s/d Z kecuali Tuhan sendiri tentunya.ambil contoh sebagai perbandingan : para filosof – saintis adalah manusia pemikir yang dalam mendeskripsikan kebenaran tertentu yg ingin diungkapkannya sering menggunakan konsep hukum kausalitas agar orang lain mengerti argumentasi atau rumusannya,tapi sebaik dan se komplit apapun konsep-rumusan yang dibuat oleh manusia seputar yg berhubungan dengan hukum kausalitas paling hanya berputar di tengah tengah,artinya mustahil ada manusia yang bisa menerangkan kausalitas dari awal hingga akhir,sebab manusia adalah bukan makhluk yang mengetahui keseluruhan itu masalahnya.sebab itu para filosof-saintis ‘ditengah’ sering begitu ‘apik dan konstruktif’ kala berbicara sesuatu yg berkaitan dengan hukum sebab-akibat’ tapi di awal atau di ‘A’ atau di sebab pertama manusia cuma bisa meraba raba begitu pula di akhir atau di ‘Z’ atau di akibat terakhir manusia juga cuma bisa meraba raba. Sebab bila konsisten sebenarnya hukum kausalitas itu harus difahami secara utuh sehingga otomatis manusia harus mengenal sebab pertama dan akibat terakhir dan tak bisa manusia menggapainya tanpa bantuan Tuhan. Itulah Agama diterangkan oleh ilmu sari’at sebab kebenaran agama berbicara tentang rangkaian berbagai sebab yang ada dan terjadi dalam realitas yang kemudian akan menjadi berbagai akibat.agama juga menerangkan konsep hukum kausal secara utuh artinya menjelaskan rangkaian sebab sebab pertama hingga akibat-akibat terakhir termasuk sebab-akibat yang kini tengah terjadi dan tengah kita jalani dan alami. 2.Ilmu logika atau ilmu tentang tata nilai yang bersifat dualistik Ilmu logika tidak lahir dari otak manusia,pandangan yang menganggap bahwa ilmu logika lahir dari otak manusia itu anggapan yang sangat keliru sebab se jenius apapun otak manusia ia hanya penemu ilmu Tuhan,para pemikir ilmu logika hanya menemukan sisi demi sisi dari ilmu logika termasuk Aristoteles yang menemukan konsep silogisme.sebab pada prinsipnya ilmu logika lahir karena didunia ini ada konsep-prinsip dualisme yang lahir dari segala suatu yang Tuhan ciptakan sercara berpasangan.dengan kata lain coba fikirkan apakah manusia bisa membuat konsep ilmu logika bila Tuhan tidak menciptakan segala suatu secara berpasangan sebagaimana tertulis dalam kitab suci Al Qur’an surat Yaa siin (?) Karena segala suatu diciptakan secara berpasangan maka lahirlah konsep hukum kehidupan yang serba dualistik yang menata kehidupan dalam pola yang terkonsep secara dualistik sehingga mulai dari zaman nabi Adam hingga sampai hari ini kita masih tetap bisa mengenal adanya : siang-malam, kehidupan-kematian,muda-tua dlsb,dst.konsep hukum kehidupan itu juga memuarakan pemahaman tentang realitas kehidupan kedalam prinsip dualisme,sehingga coba saja tela’ah apapun yang ada dan terjadi dalam kehidupan itu semua seperti serba berpasangan,hanya pasangan dari sesuatu itu sering berbeda dimensi, misal : alam dunia ada didimensi dunia lahiriah sedang pasangannya alam akhirat ada di realitas yg bersifat abstrak,tubuh manusia ada di dimensi dunia lahiriah sedang pasangannya yaitu jiwa nya ada di dimensi alam abstrak.begitu pula sebab sebab yang dibuat manusia didunia maka akibat sempurnanya hanya akan ditemui didunia yang bagi kita sekarang masih gaib yaitu : akhirat,atau kebaikan dan kejahatan didunia lahiriah ini yang berpasangan dengan konsep sorga-neraka di dunia yang (untuk sekarang) masih abstrak. Itulah konsep-prinsip dualisme membentang dari dunia alam lahiriah ke alam gaib dan begitu pula dari alam gaib-abstrak ke dunia alam lahiriah,sehingga realitas secara keseluruhan bisa difahami oleh cara berfikir logika akal yang dualistik. Dan oleh sebab itu prinsip dualisme hanya bisa dibaca oleh orang yang ‘bermata dua’ (bisa melihat dunia lahiriah-dunia abstrak secara berimbang) artinya tak akan pernah bisa difahami oleh orang yang bersudut pandang materialist ‘bermata satu’ (yang hanya awas-focus ke dunia alam lahiriah-material) Itulah penciptaan konsep dan prinsip dualisme diiringi dengan penciptaan alat penangkap dan pengelolanya yaitu akal.karena itulah karakter cara berfikir akal akan selalu paralel dengan konsep dan prinsip dualisme sebab karakter cara berfikir akal itu bersifat dualistik,dimana ciri dari berkarakter dualistik adalah senantiasa berfikir tertata secara zig-zag dalam alur yang sistematik-mekanistik tidak ‘acak’ atau ‘ngawur’ atau ‘tanpa pola’ sebab itu bila ada sebuah pemikiran yang tidak bisa direkonstruksi serta difahami oleh cara berfikir logika akal yang tertata maka itu berarti bukan pemikiran yang ‘rasional’.ciri lain adalah : akal tidak bisa memikirkan atau merekonstruksi hal hal yang bersifat ‘ganjil’. Kebenaran agama sebagiannya ditegakkan oleh konsep ilmu logika artinya kebenaran agama dilandaskan pada prinsip dualisme dan memuarakan manusia pada pemahaman akan adanya bentuk nilai nilai yang berkarakter dualistik : ini benar-ini salah,ini baik-ini buruk,ini jalan keselamatan-ini jalan kepada kesesatan dll.dst.sehingga karena itulah kebenaran agama disebut sebagai ‘kebenaran rasional’ karena konsep kebenarannya bisa direkonstruksi oleh karakter cara berfikir akal yang dualistik. 2.Ilmu hakikat atau ilmu yang berbicara tentang bentuk kebenaran yang ditentukan langsung oleh Tuhan Ilmu logika dan akal fikiran manusia memang menjadi sebuah parameter kebenaran tersendiri tapi kekuatan dan wilayah kekuasaannya dibatasi hingga ke batas atau titik tertentu,itulah sebab dalam agama tak selamanya ilmu logika atau kebenaran berdasar logika itu menjadi parameter kebenaran tidak seperti dalam filsafat rasionalisme yang menjadikannya sebagai parameter utama dan satu satunya parameter kebenaran yang dianggap valid. Sebab tidak semua yang ada dalam realitas kehidupan itu bisa diterangkan melalui logika akal yang tertata,suatu saat manusia akan tiba juga pada sesuatu yang logika akal fikiran manusia sudah tak akan bisa menjelaskannya,coba saja tengok dunia wacana filsafat disana teramat banyak problem keilmuan yang sudah tak bisa lagi dijelaskan oleh logika akal manusia sehingga ujungnya dunia filsafat dipenuhi oleh begitu banyak pertanyaan yang sudah tak bisa dijawab lagi oleh manusia. Sebagai contoh : manusia dalam menggumuli problematika keilmuan akhirnya akan tiba juga pada problem yg bersifat kompleks seperti : mana yang lebih dahulu ada : ayam atau telor,lelaki atau wanita (?),apakah takdir bisa dirubah (?),apa hakikat kehidupan (?) apakah hakikat ‘realitas’ (?) Berarti manusia membutuhkan sebuah bentuk kebenaran yang ditetapkan langsung oleh Tuhan yang akal sudah tidak berhak lagi ikut memilah dan memilih,(sebagaimana kita tahu dalam dimensi ilmu logika ‘kebenaran’ seolah berada dalam pilahan dan pilihan manusia,atau dalam dimensi ilmu logika manusia seolah masih memiliki hak atau masih bisa ‘ikut campur’ untuk ikut menentukan ini benar ini salah,ini baik ini buruk dst.). Itulah ilmu hakikat adalah ilmu yang berbicara tentang suatu bentuk kebenaran yang ditentukan langsung oleh Tuhan dan manusia tak bisa menolak atau memprotes atau ikut campur lagi.itu sebab bila Tuhan menyatakan bahwa : ‘manusia pertama adalah Adam’ atau ‘Wanita tercipta dari tulang rusuk pria’ atau ‘hakikat kehidupan adalah…..anu…anu’ maka manusia dengan kekuatan logika akalnya tak boleh berontak sebab semua itu adalah bentuk bentuk kebenaran yang ditentukan langsung oleh Tuhan,artinya di wilayah ‘hakikat’ itu logika sudah tidak punya kewenangan untuk ikut campur. Nah kebenaran agama ditegakkan oleh ilmu hakikat karena dalam agama kebenaran apapun dilandaskan sebagai suatu yang hakikatnya berasal dari Tuhan dan kebenaran apapun yang ditemukan oleh manusia maka agama memuarakannya kepada yang satu - yang bersifat hakiki yaitu Tuhan, sedang dalam dimensi ilmu logika problem kebenaran seolah selalu dimuarakan pada benar-salah menurut pemahaman logika akal,atau yang menurut logika akal bisa menangkap dan memahaminya. Artinya bila ilmu logika berbicara tentang ‘yang genap’-yang dualistik yang bisa dipilah-dipilih dan dikelola oleh manusia maka ilmu hakikat memuarakan manusia pada yang ganjil yang satu yaitu (yang seputar) Tuhan. 4. ilmu hikmat (ilmu yang berbicara tentang makna atau maksud-tujuan yang bersifat Ilahiah Ada banyak problem keilmuan yang bersifat kompleks yang sulit diterangkan oleh ilmu sari’at-ilmu logika maupun ilmu hakikat karena problem keilmuan ini seperti penuh dengan teka-teki ilmiah yang sulit terjangkau oleh logika akal,dan bila pun hakikatnya telah kita sandarkan pada Tuhan tapi apa makna dibalik sesuatu yang lebih mirip teka teki itu (?) Salah satu contoh problems teka teki terbesar yang ada dalam sejarah dunia adalah : mysteri ‘keragaman’. Bila menurut logika Tuhan itu pasti satu sebab mustahil peñata alam semesta itu bisa lebih dari satu,tapi mengapa Tuhan yang disembah manusia kemudian seperti ‘banyak’,sehingga ‘kebenaran’ (dalam tanda kutip) menjadi ‘seolah banyak’ dan agama serta keyakinan manusia pun menjadi beragam dan berbeda beda (?) Kalau kita memakai logika sebagai parameter : mengapa Tuhan tidak mengarahkan manusia untuk hanya mengenal diriNya saja sebagai Tuhan atau mengapa Tuhan seperti membiarkan dunia ini sedemikian rupa sehingga banyak bermunculan ‘para pesaingnya’ (maaf pakai tanda kutip). Logika manusia pasti akan ‘mumet’ memikirkan masalah keragaman seperti itu sebab problem seperti itu seperti sebuah teka teki yang bersifat Ilahiah.atau mengapa Tuhan seperti tengah ‘bermain teka teki’, padahal sebagai mana tertulis dalam kitab suci Al Qur’an bahwa ‘kalau Tuhan berkehendak maka Ia berkuasa untuk menjadikan manusia satu umat’ artinya Ia berkuasa menjadikan dunia tanpa ‘pesaingNya’ sehingga manusia hanya mengenal satu Tuhan dan satu agama atau ‘satu umat’.tetapi faktanya Tuhan seperti membuat banyak pemeran dan adegan sejarah dunia yang terlalu banyak dan beragam beragam sehingga ‘jalan ceritera seperti sulit difahami’ sehingga akibatnya pengenalan terhadap Tuhan yang satu menjadi sesuatu yang seolah menjadi tidak mudah’. Analoginya ibarat seorang pembuat skenario ceritera sandiwara maka ia memiliki kekuasaan mutlak untuk apakah hendak membuat sandiwara dengan beragam peran atau membatasi peran dan adegan agar penonton ‘mudah untuk memahami jalannya ceritera serta mudah untuk mengenal visi sang pembuatnya’. Itulah selalu ada jalan untuk memahami suatu yang rumit bagi logika akal fikiran itu sebab Tuhan menciptakan sebuah konsep ilmu sebagai jalan keluarnya yaitu ‘ilmu hikmat’.dengan ‘hikmat’ kita bisa memahami segala suatu dari kacamata sudut pandang makna atau maksud tujuan yang bersifat Ilahiah. Dengan hikmat kita bisa mendalami semua apa yang ada dan terjadi dalam realitas untuk difahami dalam bingkai makna atau maksud tujuan yang bersifat Ilahiah,misal : apa hikmat dari adanya hukum kehidupan yang serba dualistik,apa hikmat dari adanya keragaman (?) dlsb. Agama ditegakkan oleh ilmu hikmat karena hikmat menerangkan apapun yang dideskripsikan oleh agama berdasar bingkai makna atau maksud tujuan yang bersifat Ilahiah. Dan ‘hikmat’ memiliki kedudukan tersendiri yang lebih tinggi derajat dan kedudukannya nya ketimbang ilmu dan kebenaran berasas logika,sebab itu dalam agama manusia tidak di arahkan untuk hanya bermain di wilayah ilmu logika saja tapi juga diarahkan untuk masuk ke wilayah ilmu hikmat. Artinya juga secara kejiwaan manusia tidak dikonsep untuk lebih banyak bermain di wilayah ‘otak’ tapi lebih diarahkan untuk lebih banyak bermain di wilayah ‘hati’ sebab hikmat adalah ilmu hati dalam arti lebih banyak menggunakan cara berfikir ‘hati’ ketimbang cara berfikir ‘otak’ yang kaku-mekanistik- ‘hitam-putih’. Itulah sebab dalam agama ada ajaran : makna sholat,makna puasa dlsb.dan tidak ada logika sholat-logika puasa dlsb.sebab ilmu logika sudah tidak lagi digunakan sebagai parameter utama kala menghayati hal hal yang memerlukan penghayatan yang bersifat mendalam. ‘Tatkala Ia menciptakan langit disanalah aku (sang hikmat) berada,tatkala Ia menggariskan cakrawala diatas permukaan samudera’…..demikian amsal Soelaiman tentang ‘hikmat’, menunjukkan ketinggian ilmu hikmat diatas ilmu manapun. Itulah ke 4 bentuk ilmu itu secara keseluruhan membentuk konstruksi konsep kebenaran mutlak agama, dan disebut ‘kebenaran mutlak’ artinya sebuah bentuk kebenaran yang merangkum-mengikat keseluruhan dan karena nya juga menerangkan keseluruhan.dimana ke 4 ilmu itu menerangkan bagan bagan tersendiri dari keseluruhan itu. (sumber, tulisan mas Ujang Bandung)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

terima pasang iklan, GRATIS gak pakek bayar

terima pasang iklan, GRATIS gak pakek bayar

cari rejeki bersama Ustad Yusuf Mansur

Pasang iklan disini, tanpa dipungut bayar

Pasang iklan disini, tanpa dipungut bayar

bersama formula bisnis.com, Bisaaa....

NOOR ATHIFA ALYA KEYRAWILDA

NOOR ATHIFA ALYA KEYRAWILDA

......filosofi......

Dalam tidur mungkin kita bermimpi bahwa HIDUP adalah indah menyenangkan penuh kebahagiaan. Namun dikala bangun kita mendapatkan, kita melihat, kita merasakan bahwa HIDUP adalah penuh tantangan, memerlukan perjuangan, memerlukan pengorbanan, memerlukan motivasi semangat. Serta menuntut kesabaran, memerlukan ketabahan tawakkal .......

DAN KAMI TIDAK MENGUTUS SEORANG RASULPUN SEBELUM ENGKAU (MUHAMMAD) MELAINKAN KAMI WAHYUKAN KEPADANYA, BAHWA TIDAK ADA TUHAN (YANG BERHAK DISEMBAH) SELAIN AKU, MAKA SEMBAHLAH AKU. ( QS. AL ANBIYA 21:25)

DAN KAMI TIDAK MENGUTUS SEORANG RASULPUN SEBELUM ENGKAU (MUHAMMAD) MELAINKAN KAMI WAHYUKAN KEPADANYA, BAHWA TIDAK ADA TUHAN (YANG BERHAK DISEMBAH) SELAIN AKU, MAKA SEMBAHLAH AKU ( QS. AL ANBIYA 21:25)

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. Saba’: 28)


“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107)



PENTING UNTUK DIINGAT, BAHWA HIDUP ADALAH MEMERLUKAN KEBERSAMAAN, SALING MEMBUTUHKAN SALING TOLONG MENOLONG SESAMA, SALING MEMBERI DAN MENERIMA, HIDUP DALAM KONTEKS PARADIGMA MENANG-MENANG, BUKAN KALAH -MENANG.


( by luk)