SELAMAT DATANG DI BLOG INI, SEMOGA BERGUNA DAN BERMANFAAT INFORMASINYA. SALAM ADMIN: LUK

jam merah putih

KUDA LARI DAPAT DIBURU, NASIB ORANG SIAPA TAHU. BERAKIT-RAKIT KE HULU BERENANG-RENANG KETEPIAN, BERSAKIT-SAKIT DAHULU BERSENANG-SENANG KEMUDIAN

well come

In this blog includes matters relating to the context SOCIAL, CULTURAL, ECONOMIC, BISNIS, POLITICS / STATE and GOVERNMENT. Also, some matters relating to Religious Knowledge, art, literature, almost on all the livelihood based on science, experience.

في هذا بلوق يشمل المسائل المتعلقة السياق الاجتماعي والثقافي والاقتصادي والأعمال والسياسة الدولة والحكومة. أيضا، بعض المسائل المتعلقة بالمعارف الدينية والفن والأدب، وتقريبا على جميع سبل العيش على أساس العلم والخبرة.


SEKALI LAYAR TERKEMBANG, PANTANG SURUT KETEPIAN

cari topik Blog dan link yang diinginkan. ketik kata kunci dikotak ini

Memuat...

please open with your language. (pilih bahasa yg sesuai tuk baca) اختيار اللغة لقراءة

untuk membaca dengan bahasa anda klik select language اختيار اللغة لقراءة

Senin, 29 Agustus 2011

Abdurrahman Wahid Author profile

Abdurrahman Wahid
Author profile

born
August 04, 1940 in Jombang, Jawa Timur, Indonesia

died
December 30, 2009

gender
male

website
http://www.gusdur.net

genre
Religion & Spirituality, Social Sciences, History


About this author
edit data

Kyai Haji Abdurrahman Wahid, akrab dipanggil Gus Dur lahir di Jombang, Jawa Timur, 4 Agustus 1940 dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah.

Ayah Gus Dur, KH Wahid Hasyim, adalah putra pendiri organisasi terbesar Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy`ari. Sedangkan ibunya adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, KH Bisri Syamsuri.

Gus Dur menikah dengan Sinta Nuriyah dan dikaruniai empat putri yaitu Alissa Qotrunnada Munawaroh, Zannuba Arifah Chafsoh (Yenni), Annita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari.

Sebagaimana dikutip dari situs resmi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, sejak masa kanak-kanak, Gus Dur mempunyai kegemaran membaca dan rajin memanfaatkan perpustakaan pribadi ayahnya. Selain itu, Gus Dur juga aktif berkunjung ke perpustakaan umum di Jakarta. Pada usia belasan tahun Gus Dur telah akrab dengan berbagai majalah, surat kabar, novel dan buku-buku.

Di samping membaca, Gus Dur dikenal hobi bermain bola, catur dan musik. Bahkan Gus Dur, pernah diminta untuk menjadi komentator sepak bola di televisi. Kegemaran lainnya, yang ikut juga melengkapi hobinya adalah menonton bioskop. Kegemarannya itu mendapat apresiasi yang mendalam di dunia perfilman sehingga pada 1986-1987 diangkat sebagai ketua juri Festival Film Indonesia.

Masa remaja Gus Dur sebagian besar dihabiskan di Yogyakarta dan Tegalrejo. Di dua tempat inilah pengembangan ilmu pengetahuan mulai meningkat. Masa berikutnya, Gus Dur tinggal di Jombang, di pesantren Tambak Beras, sampai kemudian melanjutkan studinya di Mesir.

Sebelum berangkat ke Mesir, pamannya telah melamarkan seorang gadis untuknya yaitu Sinta Nuriyah, putri H Muh. Sakur. Perkawinannya dilaksanakan ketika Gus Dur berada di Mesir.

Sepulang dari pengembaraannya mencari ilmu, Gus Dur kembali ke Jombang dan memilih menjadi guru. Pada tahun 1971, Gus Dur bergabung di Fakultas Ushuludin Universitas Tebu Ireng Jombang.

Tiga tahun kemudian beliau menjadi sekretaris Pesantren Tebu Ireng, dan pada tahun yang sama Gus Dur mulai menjadi penulis. Beliau kembali menekuni bakatnya sebagaii penulis dan kolumnis. Lewat tulisan-tulisan tersebut gagasan pemikiran Gus Dur mulai mendapat perhatian banyak.

Pada 1974, Gus Dur diminta pamannya KH Yusuf Hasyim untuk membantu di Pesantren Tebu Ireng Jombang dengan menjadi sekretaris.

Dari sini Gus Dur mulai sering mendapatkan undangan menjadi nara sumber pada sejumlah forum diskusi keagamaan dan kepesantrenan, baik di dalam maupun luar negeri.

Selanjutnya Gus Dur terlibat dalam kegiatan LSM. Pertama di LP3ES bersama Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin dan Adi Sasono dalam proyek pengembangan pesantren, kemudian Gus Dur mendirikan P3M yang dimotori oleh LP3ES.

Pada 1979, Gus Dur pindah ke Jakarta. Mula-mula beliau merintis Pesantren Ciganjur. Sementara pada awal tahun 1980 Gus Dur dipercaya sebagai Wakil Katib Syuriah PBNU.
Kiprahnya di PBNU semakin menanjak hingga akhirnya terpilih secara aklamasi oleh sebuah tim ahl hall wa al-`aqdi yang diketuai KH As`ad Syamsul Arifin untuk menduduki jabatan Ketua Umum PBNU pada muktamar ke-27 di Situbondo, pada 1984.

Jabatan tersebut kembali dikukuhkan pada Muktamar NU ke-28 di pesantren Krapyak Yogyakarta, 1989, dan Muktamar NU di Cipasung Jawa Barat, pada 1994.
Jabatan Ketua Umum PBNU baru ditinggalkannya setelah Gus Dur menjabat Presiden RI keempat pada 20 Oktober 1999.

Guru bangsa, reformis, cendekiawan, pemikir, dan pemimpin politik ini menggantikan BJ Habibie sebagai Presiden RI setelah dipilih MPR hasil Pemilu 1999. Dia menjabat Presiden RI dari 20 Oktober 1999 hingga Sidang Istimewa MPR 2001.

Gus Dur meninggal dunia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta, Rabu (30 Des 2009) sekitar pukul 18.45 WIB, karena sakit.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

terima pasang iklan, GRATIS gak pakek bayar

terima pasang iklan, GRATIS gak pakek bayar

cari rejeki bersama Ustad Yusuf Mansur

Pasang iklan disini, tanpa dipungut bayar

Pasang iklan disini, tanpa dipungut bayar

bersama formula bisnis.com, Bisaaa....

NOOR ATHIFA ALYA KEYRAWILDA

NOOR ATHIFA ALYA KEYRAWILDA

......filosofi......

Dalam tidur mungkin kita bermimpi bahwa HIDUP adalah indah menyenangkan penuh kebahagiaan. Namun dikala bangun kita mendapatkan, kita melihat, kita merasakan bahwa HIDUP adalah penuh tantangan, memerlukan perjuangan, memerlukan pengorbanan, memerlukan motivasi semangat. Serta menuntut kesabaran, memerlukan ketabahan tawakkal .......

DAN KAMI TIDAK MENGUTUS SEORANG RASULPUN SEBELUM ENGKAU (MUHAMMAD) MELAINKAN KAMI WAHYUKAN KEPADANYA, BAHWA TIDAK ADA TUHAN (YANG BERHAK DISEMBAH) SELAIN AKU, MAKA SEMBAHLAH AKU. ( QS. AL ANBIYA 21:25)

DAN KAMI TIDAK MENGUTUS SEORANG RASULPUN SEBELUM ENGKAU (MUHAMMAD) MELAINKAN KAMI WAHYUKAN KEPADANYA, BAHWA TIDAK ADA TUHAN (YANG BERHAK DISEMBAH) SELAIN AKU, MAKA SEMBAHLAH AKU ( QS. AL ANBIYA 21:25)

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. Saba’: 28)


“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107)



PENTING UNTUK DIINGAT, BAHWA HIDUP ADALAH MEMERLUKAN KEBERSAMAAN, SALING MEMBUTUHKAN SALING TOLONG MENOLONG SESAMA, SALING MEMBERI DAN MENERIMA, HIDUP DALAM KONTEKS PARADIGMA MENANG-MENANG, BUKAN KALAH -MENANG.


( by luk)